23 Juni 2009

Tanaman Jarak Pagar Masih Prospektif

Oleh ITB77

Triharyo Soesilo:

Sebagai seorang pendorong penggunaan energi alternatif berbahan baku tanaman Jarak Pagar (Jatropha Curcas), saya sangat sedih membaca berita-berita hasil penelitian Netherland University tentang Jarak Pagar (Jatropha Curcas). Hasil-hasil penelitian terakhir ternyata menunjukkan bahwa tanaman Jarak pagar memerlukan air 5x dari Tanaman tebu. Nampaknya alternatif energi memakai Tanaman tebu akan relatif lebih efisien dibanding tanaman Jarak pagar.

Sehingga saat ini Jarak pagar tidak disebut lagi sebagai “Miracle crop” karena memerlukan air dalam jumlah yang sangat banyak, menurut National Academic of Sciences sekitar 20.000 liter untuk tumbuh dengan subur.

Jumlah ini sangat jauh lebih tinggi dibanding kedelai, jagung dan tebu yang hanya di kisaran 14.000 liter. Hasil penelitian ini sangat bertolak belakang dengan klaim awal tentang tanaman itu yang menurut informasi sangat tahan di daerah kering.

D1 sebagai salah satu perusahaan pengembang Jarak pagar (Jatropha Curcas) terbesar di dunia masih terus mencoba melawan kenyataan ini dan mengembangkan teknologi untuk pembudi-dayaan tanaman Jarak pagar di seluruh dunia secara raksasa.

-----

Eddy Entum:

Saya ingin menceritakan pengalaman saya bertanam jarak (yang masih saya lakukan sampai saat ini) sebagai berikut:

Awal 2008 lalu saya telah memulai penanaman Jarak Pagar di Kabupaten Garut bekerja sama dengan petani & Kelompok Tani.

Kami telah menanam total 1,8 juta pohon (tepatnya 1.760.780) yang melibatkan 1.939 petani dari 105 Kelompok Tani, yang tersebar di 6 Kecamatan dengan cara tumpang sari atau tanaman selingan (petani tetap menanam tanaman utama lain seperti yang biasa dilakukan selama ini) sehingga Jarak diharapkan menjadi pendapatan tambahan.

Tanaman selalu kami monitor di mana staf kami melakukan peninjauan lapangan, pemotretan dengan geo-tagging, dan pelaporan rutin. Minimal setiap minggu dilakukan monitoring di dua desa dan juga dilakukan focus group discussion dengan para petani dari satu Kelompok Tani setiap minggu. Karena luasnya area dan lebih suburnya lahan, maka monitoring intensif kami arahkan di kecamatan Malangbong.

Dari 718.668 pohon di Kecamatan Malangbong yang termonitor dengan intensif, saat ini sekitar 50% telah mulai berbuah, namun hasil biji yang diperoleh sangat minim di mana baru sekitar setengahnya yang bisa dipanen dengan hasil < 0,1 kg/pohon.

Biji yang diperoleh sementara dipakai sendiri oleh petani untuk memasak dengan kompor khusus biji jarak yang dimiliki sendiri maupun yang kami bagikan sebagai contoh (satu unit per kelompok). Sebagian biji juga dipergunakan untuk pembibitan baru oleh masing-masing petani. Secara teoretis, jumlah tanaman 700 ribu ini setelah 4 tahun akan menghasilkan 2,5 ton minyak per hari.

Sebenarnya, dari hasil percobaan pemerasan, biji jarak ini cukup menjanjikan karena dengan mesin press sederhana dapat diperoleh 30-32% minyak. Kemudian dari hasil pengolahan menjadi Biodiesel juga diperoleh hasil dengan spesifikasi unggul. Tetapi, jumlah biji yang tersedia memang sangat minim dan mungkin ini berhubungan dengan produktivitas yang sangat membutuhkan jumlah air yang besar seperti laporan dari Belanda yang disampaikan oleh Hengki (Triharyo Soesilo) di atas.

Dari hasil pengamatan kami di lapangan pula, memang Jarak tumbuh dengan subur (di beberapa lokasi tingginya sudah mencapai 1,5 - 2 meter) dan berbuah jauh lebih banyak di tempat-tempat di mana petani memelihara tanaman utama yang terpelihara. Tanpa sengaja, Jarak yang mereka tanam memperoleh nutrisi (dan air) dari tanaman utamanya.

Memang kami tidak meneliti, jangan-jangan kalau tanpa Jarak maka tanaman utamanya bisa lebih baik, namun sejauh ini tidak ada keluhan dari petani.

Di sebagian lokasi di mana petani hanya menanam tanaman utama dengan mengandalkan hujan, memang terlihat pohon Jaraknya juga tidak tumbuh dengan baik dan kebanyakan belum berbuah. Bahkan masih ada yang tingginya baru sekitar 60 cm dalam umur 1,5 tahun.

Sampai saat ini saya tetap mencoba mengembangkan Jarak ini, asalkan konsepnya tetap sebagai tanaman selingan. Petani yang sudah terbiasa memperoleh penghasilan dari tanaman utamanya, dapat memperoleh pendapatan tambahan dari Jarak yang relatif minim pemeliharaannya. Jadi di sini tidak ada hambatan keekonomian karena sifatnya pendapatan tambahan.

Saya tetap menjanjikan akan membeli berapa pun hasil panennya, dan apabila dari daerah-daerah lain yang berdekatan jumlah produksi bijinya bisa cukup banyak dan kontinyu, katakanlah rata-rata per hari sekitar minimal satu ton, maka kami bersedia membeli biji tersebut dengan harga sekitar Rp 1.000/kg untuk bisa diperas dan bisa kami jual ke beberapa produsen biodiesel.

Minimal, biji Jarak bisa dipakai oleh petani sendiri untuk memasak dan menghemat pembelian minyak tanah atau gas atau mengambil kayu bakar. Syukur-syukur kalau nanti setelah 4-5 tahun bisa juga memberikan pendapatan tambahan bagi petani. Hasil produksi sedikit karena kurang air? Ya gak masalah, namanya juga pendapatan tambahan. Apakah menghabiskan air? Pasti tidak karena yang dipakai air hujan.

-----

Triharyo Soesilo:

Ada solusi lain untuk penggunaan Jatropha crude oil (selain menjadi Biodiesel) yaitu dijadikan Polyol Resin. Polyol resin bisa digunakan dalam industri pengecatan, surfactant dll. Salah seorang Indonesia yang meneliti ini adalah pak Haryono. Lihat link ini dan silahkan kontak beliau.

Saya mulai curiga tentang ini, karena para industriawan Korea dan Taiwan terus menggebu-gebu untuk menanam jarak pagar di Maluku, NTT dll, padahal mereka tahu bahwa keenokomian Biodiesel dari Jarak Pagar relatif buruk. Berita-berita tentang ini banyak beredar di Internet. Mereka bahkan juga bersedia membeli Jatropha crude oil berapa pun jumlahnya.

Selidik punya selidik, rupanya karena industriawan Korea dan Taiwan tersebut akan mengubah Minyak Jarak Pagar (Jatropha crude oil) menjadi bahan baku Industri Polyol. Salah satu patentnya yang mulai keluar dari Korea bentuknya seperti pada link ini.

Artikel Terbaru di Blog Ini